Analisis Efektivitas Kolaborasi Lintas Sektor dalam Mendukung Program Penanganan Stunting di Wilayah Perdesaan (Studi Terapan di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang)

Authors

  • Sri Dinarwati Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang
  • Yoga Mahesya Nurfadilah Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

DOI:

https://doi.org/10.37950/wpaj.v7i1.2356

Keywords:

Kolaborasi lintas sektor, stunting, implementasi kebijakan, perdesaan,, UPTD P5A

Abstract

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kolaborasi lintas sektor dalam pelaksanaan program percepatan penurunan stunting di wilayah perdesaan, dengan studi kasus di Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antara UPTD P5A, puskesmas, pemerintah desa, dan kader posyandu belum optimal. Hambatan utama terletak pada lemahnya sistem koordinasi, keterbatasan sumber daya, serta rendahnya partisipasi aktif masyarakat sasaran. Berdasarkan temuan ini, disarankan adanya forum koordinasi rutin lintas sektor, penguatan kapasitas kader dan pelaksana desa, serta integrasi anggaran stunting ke dalam perencanaan Dana Desa. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi penguatan tata kelola kolaboratif dalam pelayanan kesehatan masyarakat perdesaan.

Kata kunci: Kolaborasi lintas sektor, stunting, implementasi kebijakan, perdesaan, UPTD P5A

 

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of cross-sectoral collaboration in implementing the accelerated stunting reduction program in rural areas, with a case study in Blanakan Subdistrict, Subang Regency. The research employs a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews, observations, and documentation. The findings reveal that the collaboration among UPTD P5A, community health centers (puskesmas), village governments, and posyandu cadres has not been optimal. The main obstacles lie in weak coordination systems, limited resources, and low active participation from the target communities. Based on these findings, it is recommended to establish regular cross-sectoral coordination forums, strengthen the capacity of village implementers and cadres, and integrate stunting-related budgeting into Village Fund planning. This study provides practical contributions to strengthening collaborative governance in rural public health services.

Keywords: Cross-sectoral collaboration, stunting, policy implementation, rural areas, UPTD P5A

References

Ansell, C. & Gash, A. (2008). Collaborative Governance in Theory and Practice. Journal of Public Administration Research and Theory, 18(4), 543–571.

Emerson, K., Nabatchi, T., & Balogh, S. (2012). An Integrative Framework for

Collaborative

Governance. Journal of Public Administration Research and Theory, 22(1), 1–29. Van Meter, D. S., & Van Horn, C. E. (1975). The Policy Implementation Process: A Conceptual

Framework. Administration & Society, 6(4), 445–488.

Zainal, M., & Kamal, M. (2020). Gizi dan Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Prenada

Media.

Kementerian PPN/Bappenas. (2018). Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting. Peraturan Bupati Subang Nomor 89 Tahun 2019 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Dinas Kesehatan Kabupaten Subang. (2023). Data Prevalensi Stunting Kecamatan Blanakan.

Downloads

Published

2025-07-22

Issue

Section

Articles